
Setelah memasuki Pintu Masjidil Haram dari Pintu Babus Salam untuk tawaf Qudum (selamat datang), kami melakukan tawaf putaran 1 sampai 7 kali. Saat putaran masih belum selesai ingin hati ini untuk memegang Ka'bah. Mas Made mengizinkan dengan mengantar ke tengah.
Subhanallah waktu masuk ke tengah tidak ada aral yang merintangi, tetapi saat kembali ke
rombongan, hampir saja badan ini tergencet dari arus orang2 yang tawaf, Astaghfirullah. Baru sadar kalau memang saat itu walaupun tengah malam tapi arus yang tawaf besar sekali. Kami sadar bahwa kami datang ke Baitullah dengan gelombang2 dari Indonesia yang sudah mendekati 5 hari lagi akan Wukuf. Setelah selesai tawaf dan sholat di arah Maqom Ibrahim kami mendekati arah Pintu Ka'bah untuk berdoa.
Selesai berdoa ada seorang Arab yang berperawakan biasa tidak terlalu tinggi menyambut kami berdua dengan memberi salam dan bersalaman dengan mas made. Rasanya bahagia sekali kami dapat diterima sebagai tamu Allah di rumah Suci & Mulia tersebut. Dalam hati aku berpikir apakah ini benar orang ataukah malaikat yang diutus Allah untuk dapat menerima kami, karena jauh sebelum menikah pada tahun 1981, awal kuliah aku bermimpi dipanggil oleh Eyang kakungku yang telah meninggal sebelum aku lahir di tahun 1959. Saat itu aku berpikir apakah aku dipanggil untuk menziarahinya di kota Mekah? Mimpi itu aku simpan rapat2 sampai ada niat mendaftar Haji di Surabaya tahun 2001 saat mas Made dinas di Waru sebagai KUPB (Kepala Unit Pengatur Beban). Saat itu aku mendaftar di Depag Surabaya di depan Mesjid al Akbar yang diresmikan Gusdur waktu jadi Presiden. Karena memang belum panggilan Allah jg mas Made sibuk restrukturisasi kantor UPB jadilah tahun itu kami belum bisa mendaftar Haji.
Saat kami kembali ke Jakarta di rumah Gandul tahun 2001 bulan Juni, kami langsung menabung di tabungan Haji Bank Mandiri. Alhamdulillah setelah menjelang pembagian Quota Haji kami ditelp untuk dapat melunasi ONH dan bisa Haji tahun 2002. Alhamdulillah dengan Izin Allah SWT, panggilan Haji segera kami penuhi dengan melunasi biaya ONH yang tanpa terduga ada saja rezkinya, walaupun tadinya kami belum terfikir dari mana uangnya. Ini benar2 membukakan hati kami bahwa kalau Allah sudah meridhoi pasti ada saja jalannya. Subhanallah.
(bersambung)

1 komentar:
Wah, Tante ngeblog juga ya??? keren banget... Ibu saya mana bisa? Eh, mana sempet juga.. hehehee
Wah, pengalaman Haji nya boleh juga, Emmhhh... kapan ya saya bisa kesana???
Posting Komentar