
1.Pengalaman menarik berhaji (2002) adalah waktu di Arafah sebelum tiba waktu Wukuf tgl 9Dzulhijjah, mungkin tepatnya tgl 20 Februari 2002 hari Selasa malam, saat itu setelah sholat jama' magrib isya dan siap2 istirahat (setelah makan malam yang menu Indonesia banget/nasi dan lauk bistik ayam) saya siap untuk tidur. Tiba-tiba ada temen jamaah yang menangis meraung-raung. Saya berpikir malam ini pasti ada godaan syetan atau apa saya ga tahu pastinya, bahwa seseorang akan dibuat aneh oleh penggoda tersebut(syetan mungkin) karena ada yang berpendapat di Arafah jangan aneh-aneh berkelakuan karena akan ada Bala' (musibah yang akan menimpa, Wallahua'lam). Saya segera membuka Qur'an Surat Ar Ra'du untuk diniatkan bacaannya kpd teman saya yg sedang menjerit-jerit itu (seortang ibu muda).
Paginya sebelum sarapan saya menyempatkan berjalan-jalan sekitar Arafah, ternyata sekeliling kami adalah gunung batu yang luas sekali, Alhamdulillah kami sempat menemui teman waktu kami di PLN UPB Waru; setelah sarapan dgn standar haji kali (roti, apel dan indomie) kami berfoto-foto dengan rombongan dan teman dari PLN P3B (Bu Ayunah dan 2 org dari UBOS P3B).
Setelah masuk waktu Dhuha, kami sholat sunat Dhuha dan berdoa, dan siap-siap menjalani WUKUF pd tanggal 21 Februari 2002. Saat wukuf jam 11.00 waktu Saudi, kami mendengarkan khotbah dari Ustadz Kloter kami. Memasuki waktu Dhuhur itulah Puncak Wukuf kami, sekitar kami agak panas udaranya sehingga saya semprotkan air dari srayer untuk teman2 di dekat saya. Selesai Ustadz berdoa dan kami mengamini, tumpahlah air mata seluruh jama'ah (utamanya ibu-ibu), mengingat segala apa yang telah kami lakukan dahulu dan dosa-dosa apa saja yang telah kami lakukan. Subhanallah inilah Haji karena Allah berfirman : Haji adalah Arafah, sehingga patutlah kita berbangga yang telah menjalani Haji dengan Wukuf di Arafah.
Kami disarankan banyak berdoa sendiri setelah lepas waktu Puncak Wukuf itu. Juga disarankan kita untuk tidak tidur dengan wirid/zikir terus menerus, tetapi ternyata mata saya sangat mengantuk sekali saat itu sehingga sempat ketiduran sebentar. Kami kemudian sholat jama' lohor & asar , kemudian setelah waktu Wukuf selesai kami berombongan keluar tenda untuk mencium tanah Arafah serta berdoa, hal ini didak disarankan tetapi saya sendiri yang kepingin sehingga mantap bermunajat doa kepada ALLAH SWT. Saat itu di langit kami melihat keanehan bentuk awan, karena seperti garis lurus dan saya menyangka itu adalah tandanya malaikat turun ke bumi untuk mempersaksikan umat Islam yang sedang berhaji, seperti bangganya Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW yang yang sedang haji di tanah Arafah yang merupakan simbol dari Padang Mahsyar di Akhirat nanti (wallahua'lam). Sebelum sore saya sempatkan mengubur batu-batu yang saya bawa dari Indonesia (yang dibawain oleh ibu saya untuk persiapan melempar jumroh). Dalam hati saya berdoa, semoga batu ini jadi saksi nanti di Hari Kiamat bahwa saya benar telah sampai di Arafah untuk Wukuf Haji, moga2 ini bukan tindakan musyrik karena ada beberapa orang yang malah mengubur foto keluarganya sambil berdoa untuk orang yang fotonya dikubur itu. Itu semua jangan ditiru karena bukan seperti itu maksud berhaji itu. Juga akhirnya saya tahu bahwa waktu malam hari menjelang Wukuf yang teman saya menangis menjerit-jerit itu, katanya dia punya anak kecil yang ditinggal di Indonesia dan keluarganya ada yang tidak ikhlas dititipi anak tersebut, Wallahua'lam (hanya Allahlah yang tahu kebenarannya).
Selesailah waktu Wukuf sampai waktu asar dan kami diperbolehkan meninggalkan Arafah menuju Musdhalifah untuk bermalam dan berhenti sejenak mengambil batu.
Untuk rombongan kami, ternyata meninggalkan Arafah saat tengah malam karena antrian kendaraan sangat penuh menuju Musdhalifah. Akhirnya kami berangkat ke Musdhalifah setelah hampir kosong tenda-tenda di Arafah. Kami bergerak pelan sekali, sehingga waktu sampai Musdhalifah berhentilah kami sejenak untuk mengambil batu. Sekarang saya tahu dari pengajian yang saya ikuti, bahwa berhenti sejenak di Musdhalifah itu artinya bermalam/tidur di Musdalifah bukan mengambil batu, tetapi karena jalan merayap maka kami cuma berhenti mengambil batu saja.
Kami sampai di tenda Mina saat subuh, kami kemudian sholat subuh dan siap-siap untuk melempar Jumroh yang pertama(Aqobah). Lubang jumroh yang hanya setengah lingkaran saat itu dengan dikelilingi berjuta-juta orang yang melempar yang merupakan rukun Haji untuk menggugurkan pakaian Ihrom kita.
Kami bergerak menuju Aqobah saat yang paling Afdhol kata ketua rombongan (dhuha), dengan semangat kita teriakkan takbir seperti saat orang Indonesia semangat takbir Idhul Adha. Benar bahwa hari itu Hari Raya Qur'ban yang di Indonesia orang sholat Ied dan menyembelih kurban.
Dengan srategi kita masuk arena Jumroh dengan berlima orang sekali masuk, dan kami disarankan berkumpul kembali setelah selesai Jumroh di Pilar besar arah ke jalan raya untuk kembali pulang.
Saat di depan lubang Jumroh ternyata kami berpisah dengan 3 yang lainnya, saya dengan mas Made hanya berdua saja melempar tetapi agak jauh dari lubang jumroh. Disitu hampir saja terdorong rombongan orang yang penuh sekali; sehingga mas Made mengangkat saya untuk pindah di tempat yang aman. Untuk kemantapan hati batu yang terlempar masuk, saya lompat beberapa kali, Subhanallah kenapa Longgar sekali tempat ini, padahal tadi penuh sekali.
(bersambung)



